Sungailiat – DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka mendesak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pangkalpinang segera mengungkap identitas kapal tongkang yang diduga menabrak empat kapal nelayan di perairan sekitar 50 mil dari Muara Air Kantung, Sungailiat.
Insiden tersebut mengakibatkan tiga kapal nelayan tenggelam, sementara satu kapal lainnya mengalami kerusakan akibat benturan. Hingga kini, dua nelayan masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Ketua DPC HNSI Kabupaten Bangka, Selamet Riyadi, meminta KSOP segera memanfaatkan seluruh sistem pemantauan pelayaran, termasuk data Automatic Identification System (AIS) dan rekaman pergerakan kapal, guna melacak tongkang yang diduga terlibat dalam kecelakaan tersebut.
“Kami meminta KSOP Pangkalpinang segera memanfaatkan sistem pemantauan lalu lintas kapal, termasuk data AIS dan seluruh rekaman pergerakan kapal, untuk mendeteksi tongkang yang diduga menabrak kapal nelayan. Jangan sampai kapal tersebut lolos tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Selamet, Minggu (12/7/2026).
Tak hanya itu, HNSI juga meminta Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolair) memperkuat koordinasi dengan KSOP Pangkalpinang agar proses penelusuran terhadap kapal tongkang dapat dilakukan lebih cepat.
“Sinergi antarinstansi sangat dibutuhkan, baik untuk kepentingan pencarian dua nelayan yang masih hilang maupun proses penyelidikan penyebab kecelakaan ini,” ujarnya.
Menurut Selamet, keselamatan nelayan harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan di sektor maritim. Penanganan yang cepat dan koordinasi yang solid dinilai penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus rasa keadilan bagi para korban dan keluarganya.
Selain mendorong percepatan penyelidikan, HNSI Bangka juga mengimbau seluruh kapal yang melintas di sekitar lokasi kejadian agar meningkatkan kewaspadaan. Nahkoda maupun awak kapal diminta segera melapor kepada aparat apabila menemukan tanda-tanda keberadaan dua nelayan yang masih dalam pencarian.
“Saat ini yang paling utama adalah menyelamatkan nyawa dua nelayan yang masih belum ditemukan. Di saat yang sama, kami meminta kapal tongkang yang diduga menabrak nelayan segera diidentifikasi agar proses hukum dapat berjalan secara transparan dan bertanggung jawab,” tegas Selamet.






