BANGKA,CMNNEWS.ID — Selepas salat Jumat, suasana Masjid Al-Hidayah di Lingkungan Yos Sudarso, Sungailiat, tak langsung lengang. Sejumlah warga masih bertahan di pelataran masjid.
Beberapa tokoh terlihat berbincang ringan, sebagian lain menyampaikan keluhan soal kondisi lingkungan dan harapan mereka terhadap pembangunan daerah.
Ditengah kerumunan itu, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Bangka, Rato Rusdiyanto, tampak berbincang santai dengan warga dan tokoh agama. Ia didampingi Sekretaris DPD NasDem Bangka, Sarji Solihin, serta sejumlah pengurus partai, Jumat (15/5/2026).
Bagi Rato, Jumat bukan sekadar hari ibadah bagi umat Muslim. Momentum itu juga dianggap menjadi ruang yang tepat untuk merawat kedekatan dengan masyarakat.
“Kadang masyarakat hanya ingin didengar. Karena itu kami memilih turun langsung, duduk bersama, mendengar apa yang mereka rasakan,” kata Rato kepada wartawan.
Kegiatan silaturahmi tersebut, menurut dia, rutin dilakukan setiap pekan oleh jajaran DPD NasDem Bangka. Pola pendekatan informal dipilih agar komunikasi dengan warga berlangsung lebih terbuka.
Disela perbincangan, sejumlah warga menyampaikan berbagai persoalan, mulai dari kondisi lingkungan hingga harapan terhadap perhatian pemerintah daerah. Aspirasi itu, kata Rato, menjadi catatan penting bagi partainya.
“Silaturahmi seperti ini bukan kegiatan seremonial. Kami ingin mendengar langsung keluhan maupun harapan masyarakat supaya tidak ada jarak antara partai dan warga,” ujarnya.
Ia mengatakan, NasDem Bangka ingin hadir di tengah masyarakat bukan hanya pada musim politik, tetapi juga dalam aktivitas sosial dan keagamaan sehari-hari.
Menurut Rato, hubungan yang terbangun lewat komunikasi langsung akan lebih efektif dibanding sekadar menyampaikan program melalui ruang formal.
“Kalau komunikasi terjaga, masyarakat juga lebih leluasa menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Dari situ kami bisa memahami apa yang benar-benar dibutuhkan warga,” tuturnya.
Seorang tokoh agama menilai kegiatan seperti itu penting untuk menjaga hubungan antarelemen masyarakat tetap harmonis.
“Yang paling utama itu silaturahmi tetap hidup. Ketika masyarakat merasa dekat dan didengar, suasana di lingkungan juga menjadi lebih baik,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan diskusi santai bersama warga di halaman masjid. Tak ada panggung besar ataupun agenda formal yang kaku. Hanya percakapan sederhana yang, setidaknya bagi sebagian warga, menjadi ruang untuk menyampaikan suara mereka secara langsung.






