Opini:
Penulis: Koordinator Wilayah BEM SI, Ikbal
Babel, Cmnnews.id — Sangat miris melihat kondisi Provinsi Bangka Belitung hari ini. Ada begitu banyak tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab seorang pimpinan daerah, namun tidak terlihat adanya langkah nyata untuk memperbaiki Bumi Serumpun Sebalai. Pimpinan daerah justru terkesan sibuk membangun eksistensi diri sendiri.
Padahal, Bangka Belitung merupakan daerah yang sangat kaya. Potensi besar terdapat pada sektor pertambangan, pertanian, industri, hingga pariwisata. Namun yang kita saksikan justru sebaliknya: setiap hari Babel semakin terpuruk. Tidak ada yang benar-benar bisa kita banggakan sebagai masyarakat daerah ini meskipun kita hidup di wilayah kepulauan yang kaya.
Yang tampak justru investor luar yang leluasa mengobrak-abrik Bumi Serumpun Sebalai, sementara masyarakat lokal justru merasakan penderitaannya. Seharusnya, ada langkah tegas dari pimpinan daerah. Dan tentu saja, mustahil investor luar dapat masuk dan menguasai lahan tanpa izin dari pimpinan daerah itu sendiri.
Ironisnya, hari ini pimpinan Bangka Belitung malah sibuk mengurus hal-hal yang bukan menjadi tugas pokoknya, dan sama sekali tidak memberi dampak bagi perubahan Babel. Belum lama ini, terjadi saling lapor antara pimpinan daerah dan wakil yang justru ia tunjuk sendiri sebagai pendamping selama satu periode. Bahkan baru-baru ini, pimpinan daerah juga melaporkan seseorang terkait tuduhan tidak membayar utang.
Padahal tugas seorang pemimpin adalah memikirkan kesejahteraan masyarakat dan bagaimana Bangka Belitung bisa bersaing di kancah nasional maupun internasional—bukan justru sibuk mengurusi masalah-masalah pribadi.
Kita pun dapat melihat jelas perbandingan antara Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Padahal Bangka Belitung lebih dulu menjadi provinsi, namun perkembangan Kepri hari ini jauh lebih pesat. Sementara Babel yang kaya sumber daya alam justru tidak menunjukkan kemajuan signifikan.
Karena itu, diperlukan evaluasi terhadap pimpinan kita hari ini. Selama masa jabatan yang telah berjalan, apakah ada perkembangan atau perubahan nyata yang benar-benar dirasakan masyarakat? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur demi masa depan Bumi Serumpun Sebalai.






